Dosen Kewirausahaan Institut Shanti Bhuana Gelar PKM Olah Limbah Jagung Jadi Produk Bernilai Jual di SMKN 1 Bengkayang
Pada hari Rabu, 20 Mei 2026, dosen Program Studi Kewirausahaan Institut Shanti Bhuana Bengkayang melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di SMKN 1 Bengkayang Jurusan Pertanian. Kegiatan ini dipimpin oleh Usman, S.E., M.M. dan Ibu Benedhikta Kikky Vuspitasari, S.Pd., M.Pd., dengan tema "Membangun Kreativitas dan Kewirausahaan Siswa SMKN 1 Bengkayang Melalui Pengolahan Limbah Jagung Menjadi Produk Bernilai Jual dan Pemberdayaan Kewirausahaan Ekonomi Kreatif Berbasis Sekolah".
Kegiatan PKM ini dilaksanakan sebagai bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pemberdayaan generasi muda di daerah perbatasan. Tujuan utamanya adalah membangun kreativitas, meningkatkan keterampilan kewirausahaan, serta menanamkan semangat ekonomi hijau kepada para siswa.
"Kami ingin siswa memiliki pola pikir kreatif dan inovatif dalam melihat peluang usaha. Limbah jagung yang sering dibuang ternyata dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi jika dikelola dengan baik."
Dalam kegiatan tersebut, para dosen memberikan edukasi mengenai pentingnya inovasi dalam dunia kewirausahaan. Para siswa diperkenalkan pada berbagai potensi limbah jagung seperti tongkol, kulit, batang, dan daun jagung yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal di lingkungan SMKN 1 Bengkayang.
Limbah jagung yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai ekonomi ternyata dapat diolah menjadi berbagai produk kreatif, antara lain:
- Kerajinan tangan - seperti bunga hias, tempat pensil, dan anyaman dari kulit jagung.
- Pupuk organik - dari hasil fermentasi batang dan daun jagung.
- Bahan bakar briket - dari tongkol jagung yang dikarbonisasi.
- Produk dekoratif - hiasan dinding, lampu hias, dan aksesoris rumah tangga.
Para siswa SMKN 1 Bengkayang Jurusan Pertanian tampak antusias mengikuti setiap sesi pelatihan. Kegiatan praktik ini menjadi pengalaman baru yang memberikan wawasan bahwa peluang usaha dapat dimulai dari sumber daya sederhana yang ada di lingkungan sekitar.
"Kami ingin siswa memiliki pola pikir kreatif dan inovatif dalam melihat peluang usaha. Limbah jagung yang sering dibuang ternyata dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi jika dikelola dengan baik," ujar Pak Usman, salah satu dosen pendamping kegiatan, di hadapan para siswa.
Sesi Praktik Pengolahan Limbah Jagung
Kegiatan PKM ini tidak hanya berupa teori, tetapi juga pendampingan langsung. Para siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan sendiri pengolahan limbah jagung menjadi salah satu produk pilihan.
Kelompok 1 memilih mengolah kulit jagung menjadi bunga hias dan anyaman. Dengan sentuhan kreatif, kulit jagung yang kering dibentuk menyerupai kelopak bunga, lalu dirangkai menjadi buket cantik yang memiliki nilai jual tinggi.
Kelompok 2 fokus pada pembuatan pupuk organik dari batang dan daun jagung. Mereka mempelajari proses fermentasi sederhana yang dapat menghasilkan pupuk berkualitas untuk kebutuhan pertanian.
Kelompok 3 mencoba mengolah tongkol jagung menjadi briket. Melalui proses karbonisasi dan pencetakan, tongkol jagung yang tadinya hanya dibakar atau dibuang kini bisa menjadi sumber energi alternatif.
Kelompok 4 membuat produk dekoratif seperti lampu hias dan hiasan dinding dari campuran berbagai limbah jagung. Hasil karya mereka dinilai sangat kreatif dan layak jual.
Para siswa tampak bersemangat ketika melihat limbah yang selama ini mereka anggap tidak berguna ternyata bisa disulap menjadi produk yang cantik dan bermanfaat. "Baru tahu saya, Pak, kulit jagung bisa jadi bunga. Ternyata selama ini kita buang-buang uang!" ujar salah satu siswa dengan penuh antusiasme.
Pemberdayaan Kewirausahaan Ekonomi Kreatif Berbasis Sekolah
Selain pelatihan teknis pengolahan limbah, kegiatan PKM ini juga memberikan materi tentang pemberdayaan kewirausahaan ekonomi kreatif berbasis sekolah. Para siswa diajarkan cara memulai usaha dari produk yang mereka buat, mulai dari strategi pemasaran sederhana, perhitungan harga pokok produksi, hingga memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi.
Dosen Institut Shanti Bhuana menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan jiwa entrepreneur di kalangan siswa SMKN 1 Bengkayang. Selain itu, pemanfaatan limbah pertanian juga menjadi langkah nyata dalam mendukung konsep ekonomi sirkular dan pengurangan limbah lingkungan.
"Limbah jagung yang melimpah di Bengkayang selama ini hanya menjadi masalah lingkungan. Sekarang, melalui PKM ini, kami menunjukkan bahwa limbah bisa menjadi berkah. Siswa tidak hanya belajar kreativitas, tetapi juga belajar berbisnis sejak dini," jelas Ibu Benedhikta Kikky Vuspitasari, S.Pd., M.Pd.
Sambutan Positif dari Pihak Sekolah
Pihak SMKN 1 Bengkayang menyambut baik kegiatan PKM tersebut karena memberikan manfaat langsung bagi siswa, terutama dalam meningkatkan keterampilan praktik kewirausahaan. Program ini juga dinilai mampu memotivasi siswa untuk menciptakan usaha mandiri berbasis potensi lokal.
"Kami sangat berterima kasih kepada dosen Institut Shanti Bhuana. Siswa kami sekarang punya bekal keterampilan baru yang bisa langsung diterapkan. Ke depannya, kami berharap ada tindak lanjut berupa pendampingan usaha agar produk-produk dari limbah jagung ini benar-benar bisa dipasarkan," ujar perwakilan guru SMKN 1 Bengkayang.
Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama dan pameran kecil hasil karya siswa. Para orang tua yang hadir pun ikut bangga melihat kreativitas anak-anak mereka. Beberapa produk bahkan langsung dibeli oleh guru dan dosen yang hadir sebagai bentuk apresiasi.
Melalui kegiatan PKM ini, dosen Institut Shanti Bhuana berharap tercipta sinergi yang berkelanjutan antara perguruan tinggi dan sekolah dalam membangun sumber daya manusia yang kreatif, mandiri, dan mampu bersaing di era ekonomi modern. Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk nyata pengembangan kewirausahaan berbasis lingkungan yang dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat dan daerah perbatasan Bengkayang.