Pengabdian Masyarakat Featured

Dosen Institut Shanti Bhuana Gelar PKM Penguatan Deep Learning Approach Berbasis AI di SMAN 3 Bengkayang

19 May 2026 Carolus Ningki, S.Kom 1 views
Dosen Institut Shanti Bhuana Gelar PKM Penguatan Deep Learning Approach Berbasis AI di SMAN 3 Bengkayang

Pada hari Selasa, 19 Mei 2026, dosen Institut Shanti Bhuana Bengkayang melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di SMAN 3 Bengkayang. Kegiatan ini dipimpin oleh Candra Gudiato, S.Kom., M.Kom., dosen Program Studi Sistem Informasi, dengan tema "Penguatan Deep Learning Approach Berbasis Teknologi Artificial Intelligence (AI)".

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 13.20 hingga 14.30 ini diikuti oleh 35 siswa kelas XD SMAN 3 Bengkayang. Tujuan utama dari PKM ini adalah untuk memberikan pemahaman dasar mengenai kecerdasan buatan (AI) serta bagaimana teknologi deep learning dapat diaplikasikan dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan dan kehidupan sehari-hari.

Dalam pemaparannya, Candra Gudiato, S.Kom., M.Kom., menjelaskan bahwa Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan adalah teknologi yang memungkinkan mesin atau komputer untuk meniru kemampuan berpikir manusia. "AI bukan lagi teknologi masa depan, tetapi sudah menjadi bagian dari kehidupan kita saat ini. Dari rekomendasi konten di media sosial hingga asisten virtual, semuanya menggunakan AI," ujarnya di hadapan para siswa.

"Deep learning adalah cabang dari AI yang meniru cara kerja otak manusia. Dengan deep learning, komputer bisa belajar dari data dan pengalaman, bukan hanya mengikuti perintah. Ini yang membuat teknologi seperti pengenalan wajah, mobil otonom, hingga ChatGPT bisa bekerja."

Setelah pemberian materi, Candra Gudiato langsung mengajak siswa untuk praktik. 35 siswa dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok 1 menggunakan MetaAI, Kelompok 2 menggunakan ChatGPT, dan Kelompok 3 menggunakan Google Gemini. Masing-masing kelompok diminta mengajukan pertanyaan terbuka yang sama kepada AI yang mereka gunakan.

"Kita akan lihat mana yang paling ilmiah cara menjawabnya. Setiap kelompok akan mengajukan pertanyaan yang sama, lalu kita bandingkan jawaban dari ketiga AI ini," ujar Candra Gudiato sembari memandu jalannya praktik.

Pertanyaan yang diajukan kepada ketiga AI adalah: "Bagaimana perubahan iklim mempengaruhi keanekaragaman hayati di Indonesia?"

Hasil Praktik dari Tiga Kelompok:
  • Kelompok 1 (MetaAI) menjadi kelompok pertama yang menyampaikan hasilnya. Sayangnya, MetaAI memberikan jawaban paling singkat dibanding dua AI lainnya. Jawabannya cenderung umum dan kurang mendalam. "MetaAI jawabnya pendek, Pak. Kurang lengkap," ujar perwakilan kelompok 1.
  • Kelompok 2 (ChatGPT) menyampaikan hasil berikutnya. ChatGPT memberikan jawaban paling terstruktur dengan poin-poin jelas, dimulai dari definisi singkat, lalu dilanjutkan dengan dampak spesifik seperti hilangnya habitat, kepunahan spesies, dan perubahan siklus hidup fauna endemik Indonesia. "Jawabannya panjang dan kayak baca jurnal ilmiah, Pak!" ujar perwakilan kelompok 2.
  • Kelompok 3 (Google Gemini) menjadi kelompok terakhir yang menyampaikan hasilnya. Gemini merespons dengan pendekatan yang juga panjang dan informatif, dilengkapi contoh nyata seperti terumbu karang yang memutih di Raja Ampat serta penurunan populasi burung cenderawasih akibat perubahan suhu. "Gemini jawabannya panjang juga, Pak, dan langsung kasih contoh tempatnya. Jadi kita langsung paham," kata perwakilan kelompok 3.

Para siswa tampak antusias ketika melihat bahwa meskipun pertanyaan yang diajukan sama persis, ketiga AI memberikan jawaban yang berbeda-beda. Ada yang singkat, ada yang panjang dan terstruktur, ada yang panjang dengan contoh nyata.

Sesi Voting: AI Favorit Siswa

Setelah semua kelompok menyampaikan hasilnya, Candra Gudiato mengajak siswa untuk memberikan pendapat mereka melalui sesi voting sederhana.

"Sekarang kita lihat ya, dari tiga AI ini, mana yang paling kalian sukai jawabannya? Yang suka jawaban MetaAI, angkat tangan!" ujar Candra Gudiato.

Suasana kelas menjadi hening. Beberapa siswa saling berpandangan. Tidak satu pun siswa yang mengangkat tangan.

"Oh, tidak ada yang suka MetaAI. Lanjut. Yang suka jawaban ChatGPT, angkat tangan!"

Lebih dari separuh siswa mengangkat tangan dengan antusias.

"Sekarang yang suka jawaban Google Gemini, angkat tangan!"

Hampir sama banyaknya dengan ChatGPT, siswa kembali mengangkat tangan dengan semangat.

Candra Gudiato tertawa kecil melihat hasil voting tersebut. "Jadi kesimpulannya, MetaAI tidak mendapat suara sama sekali. Sementara ChatGPT dan Gemini hampir sama banyak peminatnya. Ini menarik sekali! Ternyata siswa lebih menyukai AI yang memberikan jawaban panjang, terstruktur, dan disertai contoh-contoh nyata."

Para siswa pun bertepuk tangan dan tertawa bersama.

Candra Gudiato kemudian menjelaskan bahwa perbedaan ini terjadi karena masing-masing AI memiliki arsitektur model, data latih, dan pendekatan pemrosesan bahasa yang berbeda. "ChatGPT menggunakan pendekatan yang lebih mendetail karena dilatih dengan banyak data akademik. Gemini dari Google dioptimalkan untuk pencarian informasi yang cepat dan akurat, serta mampu menyajikan contoh konkret. Sedangkan MetaAI, dalam percobaan kita kali ini, tampaknya kurang optimal untuk pertanyaan seperti ini," jelasnya di depan kelas.

Setelah sesi perbandingan dan voting, Candra Gudiato memberikan kesempatan kepada setiap kelompok untuk mengajukan satu pertanyaan tambahan yang berbeda-beda, sesuai minat masing-masing kelompok. Kelompok 1 bertanya tentang "cara membuat konten kreatif dengan AI", Kelompok 2 bertanya tentang "rumus matematika dan penjelasannya", sedangkan Kelompok 3 bertanya tentang "sejarah singkat kemerdekaan Indonesia versi AI". Hasilnya pun semakin memperkuat temuan awal bahwa ChatGPT dan Gemini lebih unggul dalam memberikan jawaban yang memuaskan.

Sesi praktik ini menjadi momen paling berkesan karena siswa tidak hanya mendengar teori, tetapi juga mengalami langsung bagaimana AI bekerja dan merespons pertanyaan manusia. Mereka diajak berpikir kritis: AI mana yang paling cocok untuk tugas sekolah? AI mana yang paling membantu untuk riset?

Candra Gudiato berharap melalui kegiatan PKM ini, siswa-siswi SMAN 3 Bengkayang dapat lebih mengenal teknologi AI dan termotivasi untuk mendalami bidang teknologi informasi. "Kami ingin mereka sadar bahwa teknologi bukan hanya tentang menggunakan, tetapi juga tentang memilih dan membandingkan. Setiap AI punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Jadilah pengguna yang cerdas!" pungkasnya.

Kegiatan ditutup dengan foto bersama. Para siswa tampak tersenyum puas dan berterima kasih kepada Candra Gudiato atas ilmu dan pengalaman baru yang sangat berharga.

Kegiatan ini merupakan bentuk nyata kontribusi Institut Shanti Bhuana Bengkayang dalam memajukan literasi teknologi di kalangan pelajar. Dengan adanya pengenalan AI sejak dini, diharapkan generasi muda dapat lebih siap menghadapi era digital yang terus berkembang pesat.